BAB II EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN
Pertanyaan :
1. Apa saja ejaan yang pernah berlaku di Indonesia? Berikan contohnya
2. Apa yang di maksud dengan kata dasar? Berikan contohnya
3. Menurut anda, apa itu kata turunan? Jelaskan!
Jawaban :
1. • Ejaan van Ophuijsen (1901–1947)
Contoh : 1).Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
2).Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, saja, wajang, dsb.
3).Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, Soekarni, repoeblik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.
4).Tandadiakritis, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, jum’at, ta’(dieja tak), pa’, (dieja pak), dsb.
5).Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya, dsb.
6)Huruf ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloe’, dsb.
• Ejaan Repoeblik atau Ejaan Soewandi (1947–1956)
Contoh : 1). Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata dulu, aku, Sukarni, republik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.
2). Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, pada kata-kata makmur, tak, pak, atau hamzahnya dihilangkan menjadi kira-kira, apa elo masih menulis jum’at alih-alih jumat?
3). Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada mobil2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Jadi terjawab deh kenapa sampai saat ini kita masih sering menuliskan angka 2 sebagai perwakilan kata ulang. Tapi sayang, kalau konteks bahasa baku, hal ini sudah kedaluarsa.
4). Awalan di– dan kata depan di keduanya ditulis serangkai dengan kata yang menyertainya. Alhasil, penulisan disekolah atau dijalan disamakan dengan dijual atau diminum. Nah, penulisan di- sebagai awalan dan kata depan selalu menjadi momok dalam tutur lisan maupun tulisan. Saat mestinya digabung, dijalankan menjadi di jalankan. Sebaliknya, di mana menjadi dimana.
5). Penghapusan tanda diakritis atau pembeda antara huruf vokal tengah / yang disebut schwa oleh para linguis atau e ‘pepet’ disamakan dengan e ‘taling’. Gue pribadi agak keberatan dengan penghapusan ini. Akibatnya, karena dialek bahasa Indonesia kita sangat beragam dan dipengaruhi bahasa daerah masing-masing, jadi mestinya kita bisa maklum jika ada orang Ambon/Papua yang kesulitan mengeja Tebet (konsensusnya Tbt) tetapi malah dieja Tebet (seperti mengeja bebek). Atau misalnya, komputer yang bagi orang Batak dieja sebagai komputer (seperti mengeja e pada kemah) alih-alih komputer (seperti mengeja e pada terbang). Namun begitu, ada juga pendapat bahwa hal ini baik karena menuliskan tanda diakritis tidaklah praktis.
• Ejaan Pembaharuan/ Ejaan Prijono-Kattopo (1956–1961)
Contoh : Panitia ini diharapkan bisa membuat standar satu fonem dengan satu huruf (misalnya menyanyi: menjanji menjadi meñañi; atau mengalah: mengalah menjadi meɳalah). Penyederhanaan ini sesuai dengan iktikad agar dibuat ejaan yang praktis saat dipakai dalam keseharian. Selain itu, isu tanda diakritis diputuskan agar kembali digunakan. Walhasil, k-e-ndaraan dengan é (seperti elo mengeja k-e-lainan) yang tadinya ditulis sama dengan k-e-mah, akhirnya ditulis berbeda. Untuk kata sjarat (syarat) dibedakan menjadi śarat.
• Ejaan Melindo (1961–1967)
Contoh : Hal lain yang membuat ejaan ini kurang seksi adalah perubahan huruf-huruf yang dianggap aneh. Misalnya, kata “menyapu” akan ditulis “meɳapu”; “syair” ditulis “Ŝyair”; “ngopi” menjadi “ɳopi”; atau “koboi” ditulis “koboy”. Mungkin aneh karena belum biasa dan harus menyesuaikan diri lagi. Tapi, akhirnya, usulan yang mustahil dilaksanakan ini dengan cepat ditinggalkan.
• Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kasusastraan (LBK) (1967-1972)
Contoh : Sebelum adanya EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang bernama Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan ini, sebenarnya estafet dari ikhtiar yang sudah dirintis oleh panitia Ejaan Melindo. Anggota pelaksananya pun terdiri dari panitia ejaan dari Malaysia. Pada intinya, hampir tidak ada perbedaan berarti di antara ejaan LBK dengan EYD, kecuali pada rincian kaidah-kaidah saja.
• Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972- 2015)
Contoh : Misalnya, Djojobojo alih-alih Joyoboyo; Selain itu, ejaan nj juga diubah menjadi ny, sehingga penulisan njonja menjadi nyonya; Hal ini juga berlaku untuk ejaan kata ch dan menyesuaikan diri menjadi kh. Kalau dulu achirnya, sekarang menjadi akhirnya.
• Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015-sekarang
Contoh : 1). Huruf diftong yang berlaku antara lain: ai, au, ei, oi
Lafal huruf “e” menjadi tiga jenis. Contohnya seperti pada lafal: petak, kena, militer
2). Penulisan cetak tebal untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring, dan bagian-bagian karangan seperti judul, bab, dan subbab.
3). Huruf kapital pada nama julukan seseorang. Contohnya: Pak Haji Bahrudin
Tanda elipsis (...) digunakan dalam kalimat yang tidak selesai dalam dialog.
2. Kata dasar adalah satuan bahasa terkecil yang mempunyai makna. Kata dasar merupakan kata yang belum memiliki imbuhan, sehingga belum mengalami perubahan bentuk dan makna. Kata dasar dapat diartikan sebagai kata awal untuk membentuk kata yang lebih besar.
contohnya :
makan, nyanyi, dan hakim
Makan + an = makanan
Me + nyanyi = menyanyi
Meng + hakim + i = menghakimi
3. Kata turunan adalah kata yang memiliki imbuhan. Kata turunan terbentuk hasil dari proses afiksasi, reduplikasi, atau penggabungan.
Contoh: ter- + bakar = terbakar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar