Rabu, 20 Oktober 2021

EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

 BAB II EJAAN YANG DI SEMPURNAKAN


 Pertanyaan :

1. Apa saja ejaan yang pernah berlaku di Indonesia? Berikan contohnya

2. Apa yang di maksud dengan kata dasar? Berikan contohnya

3. Menurut anda, apa itu kata turunan? Jelaskan!


Jawaban :

1. • Ejaan van Ophuijsen (1901–1947)

Contoh : 1).Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.

                2).Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, saja, wajang, dsb.

                 3).Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, Soekarni, repoeblik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.

                 4).Tandadiakritis, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, jum’at, ta’(dieja tak), pa’, (dieja pak), dsb.

                5).Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya, dsb.

                 6)Huruf ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloe’, dsb.

• Ejaan Repoeblik atau Ejaan Soewandi (1947–1956)

Contoh : 1). Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata dulu, aku, Sukarni, republik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.

                2). Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, pada kata-kata makmur, tak, pak, atau hamzahnya dihilangkan menjadi kira-kira, apa elo masih menulis jum’at alih-alih jumat?

                 3). Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada mobil2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Jadi terjawab deh kenapa sampai saat ini kita masih sering menuliskan angka 2 sebagai perwakilan kata ulang. Tapi sayang, kalau konteks bahasa baku, hal ini sudah kedaluarsa.

                  4). Awalan di– dan kata depan di keduanya ditulis serangkai dengan kata yang menyertainya. Alhasil, penulisan disekolah atau dijalan disamakan dengan dijual atau diminum. Nah, penulisan di- sebagai awalan dan kata depan selalu menjadi momok dalam tutur lisan maupun tulisan. Saat mestinya digabung, dijalankan menjadi di jalankan. Sebaliknya, di mana menjadi dimana.

                 5). Penghapusan tanda diakritis atau pembeda antara huruf vokal tengah / yang disebut schwa oleh para linguis atau e ‘pepet’ disamakan dengan e ‘taling’. Gue pribadi agak keberatan dengan penghapusan ini. Akibatnya, karena dialek bahasa Indonesia kita sangat beragam dan dipengaruhi bahasa daerah masing-masing, jadi mestinya kita bisa maklum jika ada orang Ambon/Papua yang kesulitan mengeja Tebet (konsensusnya Tbt) tetapi malah dieja Tebet (seperti mengeja bebek). Atau misalnya, komputer yang bagi orang Batak dieja sebagai komputer (seperti mengeja e pada kemah) alih-alih komputer (seperti mengeja e pada terbang). Namun begitu, ada juga pendapat bahwa hal ini baik karena menuliskan tanda diakritis tidaklah praktis.

• Ejaan Pembaharuan/ Ejaan Prijono-Kattopo (1956–1961)

Contoh : Panitia ini diharapkan bisa membuat standar satu fonem dengan satu huruf (misalnya menyanyi: menjanji menjadi meñañi; atau mengalah: mengalah menjadi meɳalah). Penyederhanaan ini sesuai dengan iktikad agar dibuat ejaan yang praktis saat dipakai dalam keseharian. Selain itu, isu tanda diakritis diputuskan agar kembali digunakan. Walhasil, k-e-ndaraan dengan é (seperti elo mengeja k-e-lainan) yang tadinya ditulis sama dengan k-e-mah, akhirnya ditulis berbeda. Untuk kata sjarat (syarat) dibedakan menjadi śarat.

• Ejaan Melindo (1961–1967)

Contoh : Hal lain yang membuat ejaan ini kurang seksi adalah perubahan huruf-huruf yang dianggap aneh. Misalnya, kata “menyapu” akan ditulis “meɳapu”; “syair” ditulis “Ŝyair”; “ngopi” menjadi “ɳopi”; atau “koboi” ditulis “koboy”. Mungkin aneh karena belum biasa dan harus menyesuaikan diri lagi. Tapi, akhirnya, usulan yang mustahil dilaksanakan ini dengan cepat ditinggalkan.

• Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kasusastraan (LBK) (1967-1972)

Contoh : Sebelum adanya EYD, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, (sekarang bernama Pusat Bahasa), pada tahun 1967 mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK). Ejaan ini, sebenarnya estafet dari ikhtiar yang sudah dirintis oleh panitia Ejaan Melindo. Anggota pelaksananya pun terdiri dari panitia ejaan dari Malaysia. Pada intinya, hampir tidak ada perbedaan berarti di antara ejaan LBK dengan EYD, kecuali pada rincian kaidah-kaidah saja.


• Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972- 2015) 

Contoh : Misalnya, Djojobojo alih-alih Joyoboyo; Selain itu, ejaan nj juga diubah menjadi ny, sehingga penulisan njonja menjadi nyonya; Hal ini juga berlaku untuk ejaan kata ch dan menyesuaikan diri menjadi kh. Kalau dulu achirnya, sekarang menjadi akhirnya.

• Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) 2015-sekarang

Contoh : 1). Huruf diftong yang berlaku antara lain: ai, au, ei, oi

Lafal huruf “e” menjadi tiga jenis. Contohnya seperti pada lafal: petak, kena, militer

                 2). Penulisan cetak tebal untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring, dan bagian-bagian karangan seperti judul, bab, dan subbab.

                 3). Huruf kapital pada nama julukan seseorang. Contohnya: Pak Haji Bahrudin

Tanda elipsis (...) digunakan dalam kalimat yang tidak selesai dalam dialog.


2. Kata dasar adalah satuan bahasa terkecil yang mempunyai makna. Kata dasar merupakan kata yang belum memiliki imbuhan, sehingga belum mengalami perubahan bentuk dan makna. Kata dasar dapat diartikan sebagai kata awal untuk membentuk kata yang lebih besar.

contohnya :

makan, nyanyi, dan hakim

Makan + an = makanan

Me + nyanyi = menyanyi

Meng + hakim + i = menghakimi


3. Kata turunan adalah kata yang memiliki imbuhan.  Kata turunan terbentuk hasil dari proses afiksasi, reduplikasi, atau penggabungan.

Contoh: ter- + bakar = terbakar

Kamis, 14 Oktober 2021

HAKIKAT BAHASA INDONESIA

 Tugas yang diberikan dari kelompok 1


Pertanyaan :

1. Bagaimana proses peralihan bahasa Indonesia pada abad ke-20!

2. Apa yang di maksud dengan arti dari ungkapan “Bahasa menunjukkan bangsa”!

3. Mengapa variasi lisan lebih singkat dari pada tulisan? Jelaskan dan berikkan contohnya!

4. Sebutkan ciri variasi bahasa baku!

5. Alasan apa yang membuatmu bangga memiliki bahasa Indonesia?


Jawaban :

1. Faktor penyebab dan satu yang terpenting di antaranya ialah adanya dinamika pergerakan politik yang dilandasi oleh hasrat yang kuat untuk merdeka. Kemerdekaan itu akan terwujud apabila semua masyarakat bangsa, yang terdiri dari berbagai suku, bersatu. Untuk itu, disadari akan pentingnya alat Indonesia yang berupa bahasa persatuan dan dijadikan milik bersama semua warga bangsa. Satu bahasa di antara sekian banyak bahasa di Nusantara, yang dianggap paling layak menjadi bahasa persatuan/kebangsaan ketika itu adalah bahasa Melayu. 

Pemikiran demikian didasari kenyataan bahwa bahasa Melayu sudah merupakan bahasa yang dapat dipahami dan digunakan oleh mayoritas warga yang berasal dari berbagai suku bangsa (lingua franca) di Nusantara. Bahasa Melayu juga telah dapat menjalankan peranannya sebagai bahasa bereputasi antarbangsa dengan capaian kemantapan yang baik, baik dari sistem ejaan, peristilahan, maupun kaidah bahasanya. Bahasa Melayu dengan segala ciri yang membuatnya layak dijadikan sebagai bahasa persatuan dalam berbangsa itulah yang mendorong para pemuda yang bersemangat kebangsaan itu menjadikan dan menyebut bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia sejak Kongres Pemuda I pada tanggal 2 Mei 1926, yang dua tahun kemudian melalui ikrar bersejarah, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dinyatakan sebagai bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia.

2. • Tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka

    • Kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya

    • Bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.

3. Variasi lisan lebih singkat daripada variasi tulisan. Hal itu disebabkan adanya bagian atau unsur tertentu pada variasi lisan yang memungkinkan untuk dihilangkan, seperti penghilangan suatu subjek, objek, dan keterangan. Konteks situasi bicara pada variasi lisan dapat membantu pendengar memahami apa yang dimaksudkan oleh pembicara.

Contohnya :

Lisan :Rombongan tamu Negara Kedekatan lagi tiba.

Tulisan :Rombongan tamu Negara akan segera tiba.

4. • Ciri yang pertama adalah dinamis. Artinya, tidak tertutup kemungkinannya untuk berkembang atau berubah secara sistemis dalam memenuhi tuntutan keperluan zaman. Kata pelanggan, misalnya, adalah bentuk yang memang kita perlukan pada zaman ini.

    • Ciri yang kedua adalah seragam. Upaya pembakuan pada dasarnya dimaksudkan untuk diperolehnya keseragaman. Artinya, keseragaman didasari persetujuan penutur yang lebih banyak di antara pengguna bahasa. Kata efektif dan efisien, misalnya, masing-masing diterima dan dianggap lebih tepat digunakan untuk menyatakan sifat ‘berdaya guna’ dan ‘tepat guna’ daripada kata mangkus dan sangkil oleh mayoritas penutur bahasa Indonesia.

5. 1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diraih dengan perjuangan.

    2. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

    3. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kaya.

    4. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah sekaligus rumit.

    5. Bahasa Indonesia juga dipelajari bangsa lain.

    6. Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa resmi ASEAN