Lucunya aku ..
Selalu berseru pada semesta
Bahwa aku merindukannya
Padahal aku tau sendiri
Ia adalah sang surya
Yang dapat menjadi senja
Lalu hilang begitu saja tanpa menampakkan
dirinya kembali sebelum waktunya tiba
-Rinda. S. R
29.11.21
Lucunya aku ..
Selalu berseru pada semesta
Bahwa aku merindukannya
Padahal aku tau sendiri
Ia adalah sang surya
Yang dapat menjadi senja
Lalu hilang begitu saja tanpa menampakkan
dirinya kembali sebelum waktunya tiba
-Rinda. S. R
29.11.21
Nama :Rinda Sri Rahmawati
NIM :21061019
PRODI :Desain Grafis
Mata Kuliah :Bahasa Indonesia
Paragraf
Pertanyaan :
1. Jelaskan kembali apa yang dimaksud dengan paragraf Eksposisi !
2. Sebutkan saja ciri-ciri paragraf yang komunikatif!
3. Apa itu konjungsi?
Jawaban :
1. Paragraf Eksposisi bertujuan untuk memaparkan, menyampaikan informasi, dan menerangkan suatu topic kepada orang lain.
2. - Kepadaan (completeness)
- keutuhan
- keurutan
- kepaduan
3. Konjungsi adalah kata sambung atau kata penghubung.
Nama :Rinda Sri Rahmawati
NIM :21061019
PRODI :Desain Grafis
Mata Kuliah :Bahasa Indonesia
Kalimat
Pertanyaan
1. Yang termasuk jenis kalimat tidak lengkap adalah? Dan jelaskan masing-masing dari contohnya!
2. Jelaskan tentang apa itu kalimat minor!
3. Bagaimana cara mengidentifikasi bagian kalimat yang berupa subjek?
Jawaban :
1. Kalimat yang terdiri atas klausa tak lengkap, yaitu terdiri dari S saja, P saja, O saja, atau Ket saja.
*Kalimat Elips
Kalimat elips adalah kalimat tidak sempurna yang bentuk dasarnya karena ada unsur-unsur yang hilang.
Contoh:
a. Menyiram bunga.
b. Pulang kesini.
*Kalimat Sampingan
Kalimat sampingan adalah kalimat tak lengkap yang terjadi dari klausa tak lengkap dan diturunkan dari kalimat bersusun, seperti contoh di bawah ini
a.Bahkan mungkin lebih hebat
b.Walaupun sudah habis
*Kalimat Urutan
Kalimat urutan sebenarnya kalimat lengkap tetapi mengandung konjungsi yang menyatakan bahwa kalimat itu bagian dari kalimat lain, perhatikan contoh dibawah ini :
a. Lalu, selanjutnya apa yang akan dilakukan
b. Sesudah bermain,aku pun membantu ibu di dapur
*Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat dengan pola kalimat yang tidak lengkap dan mempunyai pola intonasi final. Jenis kalimat ini ada yang berstruktur klausa dan ada yang tidak berstruktur klausa. Adapun contoh jenis kalimat minor yang tidak berstruktur kalusa adalah sebagai berikut :
adalah kalimat tak lengkap yang memiliki intonasi final. Jenis kalimat ini ada yang berstruktur klausa dan ada yang tidak. Yang termasuk kalimat minor,
misalnya, terlihat di bawah ini.
1). Panggilan, contoh: Zus, Prof
2). Salam, contoh: Halo, Assalamualaikum
3). Ucapan, contoh: selamat berbahagia, turut berduka cita
4). Seruan, contoh: astaga! Oh !
5). Judul, contoh: Salah Asuhan, Putri yang Tertukar
6). Motto, contoh: Kebersihan sebagian dari iman
7). Inskripsi, contoh: Di sini beristirahat dengan damai
8). Ungkapan khusus yang berupa:
Larangan: dilarang membuang sampah sembarangan
2. Kalimat Minor
Kalimat minor adalah kalimat yang mengandung satu unsur pusat. Unsur pusat yang sering digunakan dalam kalimat berupa predikat. Kalimat minor umumnya digunakan sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, sebagai perintah, ataupun seruan.
3. Cara mengidentifikasi kalimat berupa
subjek :
Nama :Rinda Sri Rahmawati
NIM :21061019
PRODI :Desain Grafis
Mata Kuliah :Bahasa Indonesia
Kata dan Istilah
1. Apa yang dimaksud dengan kata?
2. Sebutkan 5 macam-macam relasi makna dengan pengertiannya!
3. Sebutkan alasanmu mengapa terdapat banyak kosakata asal bahasa daerah dan asing dalam bahasa Indonesia?
Jawaban :
1. Kata yaitu unit bahasa yang berisikan arti dan terdiri dari satu atau lebih morfem. Kata bisa diartikan sebagai elemen terkecil dalam bahasa yang bisa diucapkan atau dituliskan dan merupakan suatu realisasi dari kesatuan perasaan atau pikiran yang dipakai dalam berbahasa. ... Kata mempunyai fungsi menjadi penyusun kalimat.
2. 1). Homonimi
Terdapat tiga golongan homonimi, yakni homograf, homofon, serta gabungan keduanya yang disebut homonim.
Homograf adalah dua kata dengan ejaan yang sama, tetapi memiliki perbedaan pelafalan (bunyi) dan pemaknaan, misalnya apèl (upacara) dan apêl (buah). Sementara itu, homofon adalah dua kata yang sama dalam pelafalan, tetapi berbeda secara pengejaan dan pemaknaan, seperti sanksi dan sangsi. Ada pula gabungan homofon dan homograf seperti tahu sebagai verba ‘mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya)’ dan tahu sebagai nomina ‘makanan dari kedelai putih yang digiling halus-halus, direbus, dan dicetak.
2.Polisemi
Sebut saja kata tangan yang bisa bermakna ‘anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari’ dan ‘kekuasaan; pengaruh; perintah’. Meskipun kedua makna tersebut berbeda, arti yang pertama maupun kedua memiliki hubungan yang disebut polisemi. Chaer (2007: 301) menambahkan bahwa biasanya makna pertama yang tercantum di dalam kamus merupakan makna leksikal, denotatif, atau konseptual.
3. Sinonimi dan Antonimi
Sinonim atau sinonimi adalah relasi makna dalam kata-kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan arti. Perlu diketahui, bahwa relasi sinonim bersifat dua arah. Apabila A bersinonim dengan B, berarti B juga bersinonim dengan A. Contoh dua kata yang bersinonim adalah betul dan benar, matahari dan surya, serta awan dan mega.
Kebalikan dari sinonim adalah antonim yang relasi maknanya saling bertentangan. Contohnya adalah panas dan dingin, suami dan istri, serta tajam dan tumpul.
4.Hiponimi
Hiponimi adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generik. Misalnya, anjing, burung, dan belalang yang berhiponim dengan binatang serta mawar, melati, dan anggrek yang berhiponim dengan bunga. Sebagai superordinat, bunga dan binatang disebut sebagai hiperonim. Sementara itu, anjing, burung, belalang; dan mawar, melati, anggrek adalah kohiponim.
5.Meronimi
Relasi makna jenis ini mirip dengan hiponimi, yakni sama-sama memiliki relasi makna yang bersifat hierarki. Namun, relasi makna dalam meronomi tidak menyiratkan pelibatan searah. Relasi makna di sini dapat dianalogikan seperti “A merupakan bagian dari B”. Contoh meronimi dapat kita temukan pada atap sebagai bagian dari rumah, kantong sebagai bagian dari celana, dan roda sebagai bagian dari mobil.
3. Karena Bahasa Indonesia itu berasal dari dua sumber, yaitu sumber dalam dan sumber luar. Sumber dalam adalah bahasa Melayu dan bahasa-bahasa daerah(serumpun), sedangkan sumber luarnya adalah bahasa asing. Hal inilah yang menyebabkan terdapat banyak kosakata dari bahasa daerah maupun bahasa asing
Nama :Rinda Sri Rahmawati
NIM :21061019
PRODI :Desain Grafis
Mata Kuliah :Bahasa Indonesia
Tanya Jawab : Kelompok 3
Ejaan Yang Disempurnakan
1. (Salma Elshinta, kel. 4) dalam penulisan tanggal, sebenarnya yang paling relevan itu harus menggunakan tanda apa dan jelaskan alasannya !
Jawab: Mengacu pada EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dalam Bahasa Indonesia, untuk penulisan tanggal yang baku dalam format panjang adalah dd mmmm yyyy (17 Agustus 1945) atau dalam format pendek menggunakan tanda hubung adalah dd-mm-yyyy (17-8-1945 atau 17-08-1945).
2. (Elsya, kel. 4) mengapa beberapa kosakata dalam Bahasa Indonesia itu banyak berasal dari unsur serapan?
Jawab: Kata serapan dalam bahasa Indonesia adalah kata yang berasal dari bahasa lain (baik itu bahasa daerah maupun bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosakata. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu, tetapi manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan itu —yang sering dianggap lebih mudah— adalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar (Bahasa asing) yang menjadi asal kata baru itu.
3. (Dzikri, kel. 4) apakah ketika ada daftar urutan di dalam 1 kalimat harus ada titik dua?
Jawab: Tergantung kalimat pernyataannya, penggunaan tanda titik dua digunakan pada akhir pernyataan yang lengkap. Tapi, hal ini hanya berlaku jika masih dalam rangkaian yang sama ya.
Contoh:
- Kita persiapkan perlengkapan berkemah: tenda, ransel, jaket, dan pakaian tidur.
Lain halnya jika rangkaian tadi merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Penggunaan tanda titik dua tidak digunakan.
Contoh:
Kita memerlukan tenda, ransel, jaket, dan pakaian tidur.
4. (Septian, kel. 5 ) Mengapa teks percakapan harus ada tanda kutip?
Jawab: Penggunaan tanda kutip pada sebuah teks percakapan atau dialog menjadi sangat penting karena sudah termasuk kedalam aturan tata cara penulisan dialog yang baik dan benar sesuai dengan aturannya, yaitu kita harus berpedoman pada PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang di dalamnya terdapat pedoman tentang bagaimana cara menggunakan tanda baca yang baik dan benar.
5. (Akmal Fathurrahman, kel. 1) bagaimanakah ketentuan penulisan daftar Pustaka yang baik dan benar?
Jawab: cara menulis daftar pustaka yang baik dan benar.
1. Struktur penulisan dalam daftar pustaka memiliki urutan, seperti nama penulis, tahun terbit, judul, kota penerbit, dan nama penerbit.
2. Penulisan nama, tahun, judul dan penerbit diakhiri dengan tanda baca (.) dan nama kota penerbit diakhir dengan (:).
3. Penulisan nama pengarang jika memiliki 2 suku kata atau lebih, maka penulisan nama dibalik dan memberi tanda (,).
Contohnya, nama pengarang adalah Milea Husein maka di daftar pustaka ditulis dengan Husein, Milea.
4. Jika terdapat 3 suku kata, maka nama terakhir diletakkan di depan dan diikuti tanda (,).
Contohnya: Nugroho, Septian Aidan.
5. Jika pengarang ada 2 orang, penulisan nama pengarang pertama dibalik. Lalu, penambahan kata 'dan' di antara nama pengarang yang pertama dan kedua.
6. Penulisan daftar pustaka harus berurutan A-Z dari huruf di awal nama penulis.
6. (Asry Novia, kel. 2) kenapa penggunaan tanda kurung siku jarang digunakan dalam kalimat di buku, novel, dsb?
Jawab: karena tanda kurung siku itu biasanya dipakai untuk penulisan fiksi, seperti skripsi, karya ilmiah, jurnal dll . Tidak untuk penulisan non fiksi seperti novel.
7. (Askar, kel. 10) Mengapa tanda kutip 2 selalu terletak di depan dan di belakang kalimat?
Jawab: Hal tersebut dilakukan untuk menandai atau Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lainnya seperti ucapan, kutipan, frasa, atau kata.
8. (Ilham, kel. 11) Apa saja syarat untuk menyerap Bahasa asing ke dalam B