Nama :Rinda Sri Rahmawati
NIM :21061019
PRODI :Desain Grafis
Pertanyaan :
1. Apa Saja Sistematika Dari Penulisan Karya Tulis Ilmiah?
2. Sebutkan Dan Jelaskan Metode Yang Digunakan Dalam Menulis Karya Ilmiah!
3. Sebutkan Ciri-ciri Dari Karya Ilmiah?
Jawaban :
1. Sistematika penulisan karya ilmiah secara umum ini mencakup poin-poin berikut:
Judul.
Abstrak.
Pendahuluan.
Metode penelitian.
Pembahasan dari hasil penelitian.
Kesimpulan.
Daftar pustaka.
2. Karya ilmiah adalah merupakan karya tulis yang dibuat untuk memecahkan suatu permasalahan dengan memaparkan hasil penelitian. Oleh sebab itu, penulisannya tidak bisa sembarangan, melainkan ada metode penelitian yang perlu dilakukan.
Metode penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data-data yang nantinya dapat dianalisis untuk keperluan tertentu serta menentukan solusi dari permasalahan yang diteliti. Mengutip buku Metodologi Penelitian, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah oleh Vigih Hery Kristanto (2018), data-data yang diperoleh berdasarkan metode penelitian ini merupakan data yang valid, reliabel dan objektif. Terdapat macam-macam metode penelitian karya ilmiah yang dapat digunakan peneliti sesuai dengan masalah yang diteliti, di antaranya:
Metode Penelitian Survei
Ini adalah metode penelitian kuantitatif yang dapat digunakan untuk mendapatkan data pada masa lampau maupun saat ini. Data-data yang diperoleh mengenai keyakinan, pendapat, karakteristik, perilaku, hubungan variabel, serta untuk menguji hipotesis. Pengumpulan data dalam metode penelitian ini biasanya menggunakan metode pengamatan, yang dilakukan dengan wawancara maupun membagikan kuesioner. Hasil yang diperoleh dari metode ini biasanya digunakan untuk generalisasi.
Metode Penelitian Eksperimen
Termasuk jenis metode penelitian kuantitatif yang digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang dapat dikendalikan sehingga tidak ada variabel lain yang memengaruhi variabel terikat. Agar dapat dikendalikan, penelitian eksperimen umumnya menggunakan sampel kelompok kontrol dan biasanya dilakukan di laboratorium.
Metode Penelitian Kualitatif.
Penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi objek secara alamiah, di mana peneliti merupakan instrumen kunci. Karena itu, hasil analisis dan kesimpulan bergantung pada ketajaman analisis dari peneliti itu sendiri. Teknik pengumpulan datanya dilakukan secara trianggulasi (gabungan) dan analisis data dilakukan dengan induktif atau kualitatif sehingga tidak digunakan untuk proses generalisasi seperti yang dilakukan pada metode kuantitatif. Akibatnya, hasil penelitian kualitatif ini lebih menekankan pada makna.
Metode Penelitian Evaluasi
Penelitian evaluasi dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pelaksanaan suatu perencanaan atau seberapa jauh tujuan telah tercapai. Dengan demikian, hasil dari penelitian evaluasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menongkatkan kualitas perumusan, implementasi, maupun hasil dari suatu proyek, kebijakan, dan program.
Metode Penelitian Deskriptif
Mengutip buku Penelitian Pendidikan: Metode, Pendekatan, dan Jenis oleh Dr. H. Salim, M.Pd. dan Dr. Haidir, S.Ag., M,Pd. (2019), penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual apa adanya pada saat penelitian tengah berlangsung. Melalui penelitian ini, peneliti berusaha mendeskripsikan peristiwa dan kejadian tanpa memberikan perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Adapun variabel yang diteliti dapat tunggal maupun lebih dari satu variabel.
Studi Kasus
Pada dasarnya, studi kasus mempelajari secara intensif seorang individua tau kelompok yang mengalami kasus tertentu. Misalnya, mempelajari secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Dalam melakukannya, peneliti mempelajarinya secara mendalam dengan mengungkap variabel-variabel yang dapat menyebabkan terjadinya kasus tersebut dari berbagai aspek. Sederhananya, studi kasus dimaksudkan untuk megetahui mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan. Studi kasus bukan dilakukan untuk menguji hipotesis, tetapi sebaliknya, studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji melalui penelitian lebih lanjut
3. Struktur Karya Ilmiah
Suatu karya ilmiah biasanya memiliki tiga bagian di dalamnya:
Pendahuluan
Bagian pendahuluan berisikan dasar-dasar penelitian ilmiah dilakukan, masalah yang diangkat, dan mekanisme penyelesaian masalah itu.
Isi dan Pembahasan
Bagian isi dan pembahasan ini bisa terdiri dari satu atau lebih bab. Jumlah bab pada bagian ini bergantung seberapa pelik pembedahan dan pembahasan dari bahan penelitian.
Kesimpulan
Bagian kesimpulan berisikan kesimpulan dari hasil analisis pada bagian isi dan pembahasan. Kesimpulan yang disampaikan pada bagian ini berupa penjelasan singkat dan padat mengenai hasil analisis. Biasanya, bagian ini hanya terdiri dari satu bab.
Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah
Ciri-ciri karya ilmia hal yang harus dipahami mengenai karya ilmiah ialah ciri-cirinya:
Reproduktif
Artinya karya ilmiah ditulis oleh peneliti atau penulis harus diterima dan dimaknai oleh pembacanya sesuai dengan makna yang ingin disampaikan. Pembaca harus bisa langsung memahami konten dari karya ilmiah.
Tidak Ambigu
Ciri ini ada kaitannya dengan reproduktif. Sebuah karya ilmiah harus memberikan pemahaman secara detil dan tidak dikemas dengan bahasa yang tidak membingungkan. Dengan begitu, maksud dari karya ilmiah itu bisa langsung diterima oleh pembacanya.
Tidak Emotif
Artinya, karya ilmiah ditulis tidak melibatkan aspek perasaan dari penulisnya. Sebab, karya ilmiah harus memaparkan fakta yang didapatkan dari hasil analisis penelitian, bukan dari perasaan subjektif dari penulisnya.
Menggunakan Bahasa Baku
Menggunakan bahasa baku agar mudah dipahami. Penggunaan bahasa baku itu meliputi setiap aspek penulisannya. Mulai dari penulisan sumber, teori, hingga penulisan kesimpulan. Ketidakbakuan pada tulisan karya ilmiah hanya akan membuat pembacanya bingung dan apa yang ingin disampaikan dalam tulisan tidak dipahami pembaca.
Menggunakan Kaidah Keilmuan
Penulisan karya ilmiah harus menggunakan kaidah keilmuan atau istilah-istilah akademik dari bidang penelitian si penulis. Hal itu bertujuan untuk menunjukkan bahwa peneliti atau penulisnya memiliki kapabilitas pada bidang kajian yang dibahas dalam karya ilmiah. Penggunaan kaidah atau istilah ilmiah itu juga menjadi takaran seberapa ahli peneliti pada bidang keilmuannya.
Bersifat Dekoratif
Artinya penulis karya ilmiah harus menggunakan istilah atau kata yang memiliki satu makna. Rasional artinya penulis harus menonjolkan keruntutan pikiran yang logis dan kecermatan penelitian. Kedua hal itu penting karena karya ilmiah harus bisa menyampaikan maksud dari penelitian yang dilakukan oleh penulis tanpa membingungkan.
Terdapat Kohesi
Artinya karya ilmiah harus memiliki kesinambungan antar bagian dan babnya dan bersifat straight forward maksudnya ialah tidak bertele-tele atau tepat sasaran. Sebuah karya ilmiah setiap bagian atau babnya harus memiliki alur logika yang saling bersambung. Selain itu, penyampaiannya harus tepat sasaran dengan apa yang ingin disampaikan.
Bersifat Objektif
Karya ilmiah harus bersifat objektif. Hal ini sangat penting karena karya ilmiah tidak dibuat berdasarkan perasaan penulisnya. Karya ilmiah harus menunjukkan fakta-fakta dan data-data dari hasil analisisnya. Jadi, tidak memiliki kecondongan subjektifitas.
Menggunakan Kalimat Efektif
Dan, penulisan karya ilmiah harus menggunakan kalimat efektif. Ciri ini berkaitan dengan semua ciri sebelumnya. Tujuan penggunaan kalimat dalam karya ilmiah agar pembaca tidak dipusingkan dengan penggunaan kalimat yang berputar-putar. Penggunaan kalimat seperti itu hanya akan membuat pembaca bingung.